Oktober 27, 2026

Menjaga Kemuliaan Manhaj Salaf dalam Ikhtiar Mencari Pasangan Hidup

0
IMG-20260628-WA0007

 

﷽

 

Banyak orang bangga menyebut dirinya sebagai pengikut manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Kalimat itu terpampang di media sosial, menjadi identitas dalam berbagai forum, bahkan menjadi syarat utama ketika mencari lingkungan pergaulan. Namun pertanyaannya, apakah manhaj itu benar-benar hadir dalam seluruh aspek kehidupan, atau hanya berhenti sebagai label yang indah dipandang?

Hakikat manhaj salaf bukan sebatas nama, bukan pula simbol yang dipajang untuk memperoleh pengakuan manusia. Manhaj adalah cara hidup yang tunduk kepada wahyu. Ia menuntun seorang muslim dalam ibadah, muamalah, akhlak, hingga urusan yang paling pribadi sekalipun, termasuk dalam memilih pasangan hidup.

Ironisnya, tidak sedikit orang yang sangat tegas berbicara tentang sunnah ketika membahas masalah ibadah, tetapi menjadi sangat longgar ketika berbicara tentang urusan hati. Demi mendapatkan pasangan, sebagian rela menanggalkan batasan syariat yang selama ini mereka perjuangkan. Nomor telepon dipublikasikan kepada khalayak, komunikasi pribadi berlangsung tanpa pengawasan, rayuan demi rayuan dianggap sebagai proses ta’aruf, padahal semua itu justru membuka pintu fitnah.

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sungguh setan menyuruh kepada perbuatan keji dan mungkar.” (QS. An-Nur: 21)

Setan tidak selalu menjerumuskan manusia melalui dosa besar secara tiba-tiba. Ia memulai dengan sesuatu yang tampak sepele: percakapan ringan, perhatian kecil, candaan, hingga akhirnya hati terikat sebelum akad yang halal terlaksana.

 

Pernikahan yang Diberkahi Dimulai dari Jalan yang Diberkahi

Dalam Islam, tujuan tidak pernah menghalalkan cara. Keinginan untuk menikah adalah ibadah yang mulia, tetapi proses menuju pernikahan pun harus berada dalam koridor syariat.

Keberkahan bukan hanya terdapat pada akad nikah, melainkan telah dimulai sejak langkah pertama seseorang mencari pasangan. Sebab Allah ﷻ tidak hanya memerintahkan hasil yang baik, tetapi juga jalan yang baik.

Rasulullah ﷺ bersabda:

 إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

“Sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim)

Karena itu, setiap proses yang mengandung pelanggaran syariat tidak layak disebut sebagai jalan menuju keberkahan.

 

Lima Prinsip Syariat dalam Proses Mencari Pasangan

  • Adanya Perantara yang Amanah

Islam mengajarkan agar proses perkenalan tidak dilakukan secara bebas tanpa pengawasan. Kehadiran pihak ketiga yang terpercaya dapat menjaga kehormatan kedua belah pihak, meminimalkan fitnah, sekaligus memastikan komunikasi tetap berada dalam batas yang dibenarkan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

 لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ

“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Walaupun hadis ini berbicara tentang khalwat secara langsung, para ulama juga mengingatkan agar segala bentuk komunikasi yang membuka pintu fitnah dihindari sesuai kadar maslahat dan mafsadatnya.

  • Kejujuran adalah Pondasi

Tidak boleh ada kebohongan, manipulasi, ataupun penyembunyian fakta penting demi menarik perhatian calon pasangan.

Allah Ta’ala berfirman:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)

Rumah tangga yang dibangun di atas kebohongan akan kehilangan keberkahannya sejak awal.

  • Agama Menjadi Prioritas

Islam tidak menolak kecantikan, ketampanan, nasab maupun harta. Namun semua itu bukan standar utama.

Rasulullah ﷺ bersabda:

 تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita dinikahi karena empat perkara: hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama, niscaya engkau beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikian pula seorang wanita dianjurkan memilih laki-laki yang baik agama dan akhlaknya.

  • Nazhar Dilakukan Secara Syar’i

Islam memberikan kesempatan kepada calon suami untuk melihat calon istrinya sebelum khitbah, agar keputusan diambil dengan keyakinan dan mengurangi potensi penyesalan setelah menikah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

 اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا

“Pergilah dan lihatlah dia, karena hal itu lebih patut untuk mengekalkan kasih sayang di antara kalian berdua.” (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i)

Namun proses tersebut tetap dilakukan dengan menjaga adab, bukan berubah menjadi pacaran yang dibungkus istilah ta’aruf.

  • Menghormati Wali dan Persetujuan Kedua Belah Pihak

Islam memuliakan perempuan dengan menempatkan wali pada posisi yang terhormat. Pada saat yang sama, Islam juga melarang adanya pemaksaan dalam pernikahan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

 لَا تُنْكَحُ الْأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ، وَلَا تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ

“Janda tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai pendapatnya, dan gadis tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai izinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, syariat menjaga hak seluruh pihak tanpa mengabaikan kehormatan keluarga.

 

Jangan Jadikan Syariat Sebatas Hiasan

Sangat disayangkan apabila seseorang begitu bersemangat mengoreksi bid’ah dalam ibadah, tetapi menganggap remeh penyimpangan dalam proses mencari jodoh. Konsistensi adalah ciri kejujuran seorang muslim. Sunnah tidak dipilih berdasarkan selera, melainkan ditaati karena berasal dari Rasulullah ﷺ.

Allah Ta’ala berfirman:

 فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan terhadap keputusanmu, dan mereka menerimanya dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)

 

Penutup

Mencari pasangan hidup bukan sebatas menemukan seseorang yang menarik hati, melainkan mencari teman menuju surga. Oleh sebab itu, jalan menuju pernikahan hendaknya dijaga sebagaimana kita menjaga tujuan pernikahan itu sendiri.

Jika kita benar-benar ingin membangun rumah tangga yang diberkahi Allah ﷻ, maka mulailah dengan proses yang diberkahi. Jangan tergoda menempuh jalan pintas yang mengorbankan kehormatan demi alasan efisiensi atau mengikuti tren media sosial.

Keberkahan bukan lahir dari seberapa cepat kita menemukan pasangan, tetapi dari seberapa taat kita kepada Allah ﷻ dalam setiap langkah menuju akad yang halal. Sebab, rumah tangga yang dibangun di atas ketaatan memiliki fondasi yang jauh lebih kokoh untuk menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Tinggalkan Balasan