Muhasabah, Etika Bermedia Sosial, dan Larangan Mengadu Domba dalam Islam
﷽
Perkembangan media sosial telah membuka ruang yang luas bagi setiap orang untuk menyampaikan gagasan, nasihat, kritik sosial, maupun refleksi kehidupan. Tidak semua tulisan lahir untuk menyerang individu tertentu. Banyak di antaranya disampaikan secara anonim dan bersifat umum agar pesan yang terkandung dapat menjadi bahan renungan bagi siapa saja yang merasa relevan.
Namun, tidak sedikit orang yang justru membaca tulisan semacam itu dengan kacamata prasangka. Sebuah kritik yang ditujukan kepada fenomena sosial kemudian dianggap sebagai sindiran pribadi. Lebih jauh lagi, tulisan tersebut diambil tangkapan layarnya, disebarkan kepada orang lain, lalu diberi narasi, “Ini sedang menyindirmu.” Dari sinilah benih kesalahpahaman, permusuhan, bahkan putusnya silaturahmi mulai tumbuh.
Islam mengajarkan agar setiap muslim menjaga lisan, menjaga prasangka, serta tidak menjadi penyebab rusaknya hubungan antarsesama.
Tulisan Umum Bukan Berarti Ditujukan kepada Individu Tertentu
Sebuah tulisan yang tidak menyebut nama, tidak menunjukkan identitas, dan hanya mengkritik suatu perilaku pada dasarnya merupakan kritik terhadap fenomena, bukan terhadap orang tertentu.
Ketika seseorang secara sepihak menghubungkan tulisan tersebut kepada individu tertentu tanpa bukti yang jelas, sesungguhnya ia sedang membangun kesimpulan berdasarkan dugaan.
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.”
(QS. Al-Hujurat: 12)
Ayat ini mengajarkan bahwa tidak semua dugaan layak dijadikan dasar penilaian. Terlebih lagi jika dugaan tersebut kemudian disebarluaskan kepada orang lain hingga memicu permusuhan.
Ketika Screenshot Menjadi Alat Provokasi
Mengambil tangkapan layar terhadap tulisan yang bersifat umum sebenarnya bukanlah masalah. Yang menjadi persoalan adalah ketika screenshot tersebut digunakan untuk membangun narasi bahwa tulisan itu pasti ditujukan kepada seseorang, padahal tidak ada bukti yang mendukungnya.
Perbuatan seperti ini dapat berubah menjadi bentuk namimah, yaitu mengadu domba dengan cara memindahkan ucapan atau informasi dari satu pihak kepada pihak lain sehingga memicu kemarahan dan kerusakan hubungan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ
“Tidak akan masuk surga seorang pengadu domba (nammām).”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain Rasulullah ﷺ melewati dua kuburan, lalu bersabda:
إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ
“Sesungguhnya kedua penghuni kubur ini sedang disiksa. Salah satunya disiksa karena suka melakukan namimah (mengadu domba).”
(HR. Al-Bukhari)
Namimah tidak selalu berupa kebohongan. Bahkan ucapan yang benar sekalipun dapat menjadi dosa apabila sengaja dipindahkan kepada pihak lain dengan tujuan menimbulkan pertengkaran.
Mengapa Kita Merasa Tersindir?
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang terkadang merasa bahwa sebuah tulisan anonim sedang membicarakan dirinya. Hal ini lebih sering berkaitan dengan kondisi batin pembaca daripada niat penulisnya.
Jika sebuah tulisan terasa begitu dekat dengan keadaan kita, seharusnya pertanyaan pertama bukanlah, “Mengapa dia menulis tentang saya?”
Pertanyaan yang lebih bermanfaat adalah:
“Apa yang membuat saya merasa tersentuh oleh tulisan ini?”
Muhasabah seperti ini jauh lebih produktif daripada langsung menyalahkan penulis.
Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه pernah berkata:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”
Nasihat ini mengajarkan agar kritik terlebih dahulu dijadikan sarana memperbaiki diri sebelum sibuk mencari siapa yang harus disalahkan.
Kritik Sosial Bukan Musuh
Sepanjang sejarah Islam, nasihat dan kritik merupakan bagian dari amar makruf nahi mungkar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ
“Agama adalah nasihat.”
(HR. Muslim)
Karena itu, kritik yang disampaikan secara umum tidak selalu bertujuan menyerang seseorang. Sering kali ia hadir sebagai pengingat bagi siapa saja yang ingin mengambil pelajaran.
Apabila seseorang merasa tersindir, tidak berarti penulis memang sedang membicarakannya.
Bahaya Mencari-Cari Kesalahan
Ada pula orang yang secara rutin memantau tulisan seseorang bukan untuk mengambil manfaat, melainkan untuk mencari kalimat yang dapat dijadikan alasan menyerang atau mengadukan orang tersebut kepada pihak lain.
Perilaku seperti ini bertentangan dengan ajaran Islam.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَلَا تَجَسَّسُوا
“Janganlah kalian saling mencari-cari kesalahan.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kebiasaan memantau setiap tulisan dengan tujuan mencari celah hanya akan melahirkan prasangka, kebencian, dan permusuhan yang tidak perlu.
Menyebarkan Dugaan Dapat Merusak Silaturahmi
Ketika sebuah tulisan umum dijadikan alat untuk membangkitkan kemarahan orang lain, kerusakan yang muncul sering kali jauh lebih besar daripada isi tulisan itu sendiri.
Hubungan keluarga dapat retak.
Persahabatan dapat berakhir.
Lingkungan kerja menjadi tidak sehat.
Padahal semuanya bermula dari asumsi yang belum tentu benar.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu.”
(QS. Al-Hujurat: 10)
Ayat ini menunjukkan bahwa seorang muslim semestinya menjadi peredam konflik, bukan justru menjadi penyulutnya.
Diam Lebih Mulia daripada Memperbesar Konflik
Apabila sebuah tulisan memang tidak menyebut nama dan tidak memiliki bukti mengarah kepada seseorang, maka reaksi yang paling bijaksana adalah tetap tenang.
Jika tulisan itu benar, ambillah manfaatnya.
Jika tidak sesuai dengan keadaan kita, tinggalkan tanpa perlu memperpanjang persoalan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Sikap tenang sering kali jauh lebih menjaga kehormatan daripada bereaksi secara emosional terhadap sesuatu yang belum tentu ditujukan kepada diri kita.
Penutup
Tulisan anonim yang bersifat umum sejatinya hanyalah rangkaian kata. Makna yang muncul sering kali dibentuk oleh keadaan hati pembacanya. Karena itu, sebelum menyimpulkan bahwa sebuah tulisan sedang menyerang diri kita, lakukanlah muhasabah terlebih dahulu.
Jangan jadikan screenshot sebagai alat provokasi.
Jangan membangun tuduhan di atas prasangka.
Jangan memindahkan informasi demi menyalakan api permusuhan.
Sebaliknya, jadikan setiap nasihat sebagai kesempatan memperbaiki diri. Sebab hati yang bersih akan lebih mudah menerima kebenaran daripada sibuk mencari siapa yang harus dipersalahkan.
Semoga Allah ﷻ menghiasi lisan dan tulisan kita dengan kejujuran, menjaga hati kita dari prasangka yang buruk, serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang gemar memperbaiki hubungan antarsesama, bukan merusaknya. Āmīn.





