Mencari “Pasukan” untuk Membenci Orang Lain
﷽
Tidak semua permusuhan berhenti pada kebencian di dalam hati. Ada orang yang merasa belum puas hanya dengan membenci seseorang sendirian. Ia ingin kebenciannya dibenarkan, didukung, bahkan diaminkan oleh banyak orang. Karena itulah ia mulai menyusun cerita, membangun opini, menyebarkan narasi, dan mencari “pasukan” agar orang lain ikut membenci sosok yang menjadi targetnya.
Di balik sikap seperti ini, sering kali tersembunyi sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sebatas rasa marah. Ada keinginan untuk memperoleh pembenaran, menutupi kesalahan sendiri, serta mempertahankan citra sebagai korban. Padahal, di hadapan Allah ﷻ, kebenaran tidak pernah ditentukan oleh banyaknya orang yang percaya kepada sebuah cerita. Kebenaran tetaplah kebenaran, meskipun hanya sedikit yang membelanya.
Ketika Fakta Dipelintir demi Simpati
Salah satu ciri orang yang haus validasi adalah keberaniannya mengubah fakta. Bagian-bagian yang menunjukkan kesalahannya sengaja dihilangkan. Peristiwa dipotong sesuai kepentingannya. Kesalahan lawan diperbesar, sedangkan kesalahannya sendiri disembunyikan rapat-rapat.
Tidak jarang, ia menambahkan kisah-kisah yang dilebih-lebihkan agar tampak sebagai pihak yang paling tersakiti (playing victim). Bahkan jika kenyataan dirasa belum cukup menjatuhkan lawannya, kebohongan pun mulai diproduksi sedikit demi sedikit.
Islam sangat keras mengecam perilaku seperti ini.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nur: 19)
Ayat ini mengajarkan bahwa menyebarkan cerita yang merusak kehormatan seorang muslim bukanlah perkara ringan. Terlebih apabila cerita tersebut dibangun di atas kebohongan, potongan fakta, atau fitnah.
Validasi Manusia Tidak Akan Menghapus Dosa
Ada orang yang begitu sibuk mencari dukungan karena sebenarnya ia sedang melawan suara hatinya sendiri. Semakin banyak orang yang membenarkannya, semakin ia merasa tenang. Namun ketenangan semacam itu hanyalah ilusi.
Di hadapan manusia, seseorang mungkin berhasil membangun citra sebagai korban. Akan tetapi, di hadapan Allah ﷻ, seluruh niat, percakapan, dan kenyataan tidak pernah tersembunyi.
Allah ﷻ berfirman:
وَاللَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى
“Dan Allah mengetahui segala rahasia dan apa yang lebih tersembunyi lagi.”
(QS. Thaha: 7)
Tidak ada narasi yang mampu menipu Dzat Yang Maha Mengetahui.
Pertemanan yang Dibangun di Atas Kebencian
Persahabatan yang lahir karena sama-sama membenci seseorang bukanlah persaudaraan yang sehat. Ikatan seperti itu berdiri di atas dosa, bukan di atas ketakwaan.
Hari ini mereka berkumpul untuk membicarakan keburukan orang lain. Besok, bukan tidak mungkin mereka saling menjatuhkan ketika kepentingan berubah.
Allah ﷻ mengingatkan:
وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan janganlah kamu saling tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat berat siksa-Nya.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)
Ayat ini menjadi peringatan bahwa mengajak orang lain untuk ikut membenci, memfitnah, atau menjatuhkan kehormatan seseorang termasuk bentuk kerja sama dalam dosa.
Namimah dan Buhtan: Dua Dosa yang Sangat Berbahaya
Dalam Islam, perilaku menghasut orang lain agar membenci seseorang sering kali berkaitan dengan dua dosa besar.
Namimah, yaitu mengadu domba dengan memindahkan ucapan seseorang kepada pihak lain sehingga memicu permusuhan.
Buhtan, yaitu menuduh seseorang dengan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ
“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Beliau juga bersabda:
مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي
“Barang siapa menipu, maka ia bukan termasuk golonganku.”
(HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan betapa beratnya dosa memanipulasi kenyataan demi keuntungan pribadi, termasuk keuntungan berupa simpati dan dukungan manusia.
Allah Membela Orang yang Dizalimi
Boleh jadi hari ini seseorang berhasil membentuk opini publik. Banyak orang percaya kepada ceritanya. Banyak pula yang ikut menjauhi orang yang difitnah.
Namun sejarah mengajarkan bahwa opini manusia sangat mudah berubah. Sebaliknya, keputusan Allah tidak pernah salah.
Cepat atau lambat, kebohongan akan kehilangan topengnya. Kebenaran akan menemukan jalannya. Dan setiap lisan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang pernah diucapkannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa banyak permusuhan dapat dicegah jika setiap muslim memilih diam daripada menyebarkan cerita yang belum tentu benar.
Penutup
Mencari “pasukan” untuk membenci orang lain bukanlah tanda keberanian. Justru itu menunjukkan rapuhnya jiwa yang tidak sanggup mempertanggungjawabkan kesalahannya sendiri.
Seorang mukmin yang kuat tidak sibuk membangun opini. Ia sibuk memperbaiki diri. Ia lebih takut kepada penilaian Allah ﷻ daripada tepuk tangan manusia.
Jika suatu hari kita dizalimi, serahkan urusan itu kepada Allah ﷻ dengan cara yang benar. Jangan membalas fitnah dengan fitnah, jangan membalas adu domba dengan adu domba.
Sebab pada akhirnya, seluruh manusia akan berdiri di hadapan Allah ﷻ tanpa pengikut, tanpa pendukung, tanpa panggung, dan tanpa narasi. Yang tersisa hanyalah amal, kejujuran, serta pertanggungjawaban atas setiap kata yang pernah keluar dari lisan kita.
Semoga Allah ﷻ menjaga lisan kita dari dusta, hati kita dari kebencian yang melampaui batas, dan langkah kita dari perbuatan yang dapat merusak kehormatan sesama muslim. Aamiin.





