Dari Mimbar yang Sederhana, Tumbuh Harapan yang Terpelihara
﷽
Langkah-langkah yang tak pernah berhenti mendatangi rumah Allah ﷻ. Setiap pekan, suara azan kembali memanggil, lantunan ayat suci kembali menggema, dan hati-hati yang haus akan petunjuk kembali dipertemukan dalam satu majelis. Di Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, Dusun Gulu-guluk, Desa Saliguma, Kecamatan Siberut Tengah, cahaya dakwah terus dijaga agar tetap menyala, meski angin kehidupan di pelosok sering kali berembus lebih kencang daripada di tempat lain.

Melalui amanah sebagai Da’i 3T Program Kemitraan Khusus BAZNAS bersama Yayasan Sosial, Dakwah dan Pendidikan Mentawai, Ustadz Yanuarlis حفظهما الله terus menghidupkan masjid dengan berbagai kegiatan pembinaan. Mimbar Jumat kembali menjadi tempat mengingatkan jamaah tentang besarnya nikmat Allah dan kewajiban mensyukurinya. Meski jumlah jamaah tidak banyak, setiap wajah yang hadir adalah harapan yang tak ternilai. Sebab dalam dakwah, yang dinilai bukan ramainya manusia, melainkan keikhlasan dalam menyampaikan risalah.
Allah Ta’ala berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'”
(QS. Ibrahim: 7)


Pembinaan tidak berhenti di atas mimbar. Anak-anak TPA dibimbing dengan penuh kesabaran untuk mengenal bacaan dan gerakan shalat yang benar. Satu demi satu mereka berdiri, mengangkat tangan untuk takbir, rukuk, sujud, lalu mengulanginya kembali hingga perlahan menjadi kebiasaan. Kesalahan diperbaiki tanpa celaan, karena mendidik generasi bukan sekadar menyampaikan ilmu, melainkan juga menanamkan cinta kepada ibadah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun.”
(HR. Abu Dawud)

Semangat belajar pun terus ditumbuhkan. Para peserta didik diberi kesempatan berlatih menyampaikan ceramah agama di hadapan teman-temannya. Dari suara yang semula bergetar, perlahan tumbuh keberanian. Dari kalimat yang sederhana, lahirlah keyakinan bahwa suatu hari mereka pun dapat menjadi penyampai kebaikan bagi masyarakatnya sendiri. Sebab dakwah akan terus hidup apabila generasinya dipersiapkan sejak dini.


Suasana Ramadhan hingga datangnya Idulfitri menjadi penutup yang menghangatkan hati. Takbir berkumandang memenuhi ruang masjid, lalu keesokan harinya masyarakat berdiri dalam satu saf menunaikan shalat Id. Anak-anak, orang tua, para mualaf, dan seluruh jamaah larut dalam rasa syukur yang sama. Kebersamaan itu menjadi bukti bahwa masjid bukan sekadar bangunan, tetapi rumah tempat iman dipelihara dan persaudaraan dirawat.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut kepada siapa pun selain Allah.”
(QS. At-Taubah: 18)
Semoga setiap khutbah yang disampaikan, setiap gerakan shalat yang diajarkan, setiap anak yang belajar berdiri di depan jamaah, serta setiap saf yang terisi di Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Di pelosok Mentawai, dakwah mungkin tumbuh dengan langkah yang perlahan, tetapi selama ia dibangun dengan keikhlasan, Allah ﷻ akan menjadikannya pohon kebaikan yang akarnya menghunjam kuat dan buahnya memberi manfaat bagi generasi demi generasi.





