Di Pelosok Negeri, Zikir Menjadi Cahaya yang Menumbuhkan Generasi
﷽
Di Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, Dusun Gulu-guluk, sebuah dusun yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Desa Saliguma, Kecamatan Siberut Tengah, ada pemandangan yang mungkin tampak sederhana bagi sebagian orang. Beberapa anak duduk bersila di atas hamparan sajadah. Seorang da’i berdiri di mimbar. Tidak ada gedung megah, tidak ada pengeras suara yang menggema hingga ke penjuru kota, tidak pula lautan manusia yang memenuhi ruangan.
Namun, justru di tempat seperti inilah sering kali Allah ﷻ menumbuhkan harapan terbesar bagi umat.
Jumat, 12 Juni 2026, Ustadz Yanuarlis, Da’i 3T Program Kemitraan Khusus BAZNAS bersama Yayasan Sosial, Dakwah dan Pendidikan Mentawai, kembali menunaikan amanah dakwahnya sebagai khatib Jumat di Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq. Beliau mengangkat tema khutbah, “Menciptakan Generasi Muda yang Berzikir.”
Tema ini bukan sebatas pilihan kata. Ia lahir dari kenyataan bahwa masa depan sebuah masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan akal, tetapi juga oleh hidupnya hati.
Anak-anak yang hari ini duduk mendengarkan nasihat mungkin belum memahami seluruh isi khutbah. Akan tetapi, setiap langkah mereka menuju masjid, setiap pandangan mereka kepada seorang da’i, setiap lantunan ayat yang mereka dengarkan, perlahan sedang menanamkan benih-benih keimanan yang suatu hari akan tumbuh menjadi pohon yang kokoh.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”
(QS. Al-Ahzab: 41–42)
Zikir bukan hanya rangkaian lafaz yang keluar dari lisan. Ia adalah kehidupan bagi hati. Anak yang tumbuh dengan zikir akan lebih mudah mengenal Rabb-nya, lebih kuat menghadapi godaan zaman, dan lebih tenang menjalani kehidupan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
“Perumpamaan orang yang berzikir kepada Rabb-nya dengan orang yang tidak berzikir kepada Rabb-nya adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati.”
(HR. Al-Bukhari no. 6407)
Di wilayah 3T seperti Siberut Tengah, dakwah bukan hanya berbicara di atas mimbar. Dakwah adalah hadir, membersamai, mendengar, menguatkan, lalu menanamkan tauhid dengan penuh kesabaran. Tidak semua hasil dapat dipetik hari ini. Sebagian benih baru akan berbuah bertahun-tahun kemudian.
Begitulah para da’i bekerja.
Mereka datang bukan membawa kemegahan, melainkan membawa harapan.
Mereka tidak mengejar tepuk tangan manusia, tetapi mengharap ridha Allah ﷻ semata.
Di tengah masyarakat yang sebagian masih belajar mengenal Islam lebih dalam, termasuk para saudara-saudara muallaf yang sedang menapaki jalan hidayah, majelis-majelis kecil seperti ini menjadi tempat bertumbuhnya iman. Setiap khutbah, setiap nasihat, setiap ayat yang dibacakan adalah penguat langkah agar hati mereka tetap istiqamah.
Semoga Allah menjaga Ustadz Yanuarlis حفظه الله dalam setiap perjalanan dakwahnya di bumi Mentawai. Semoga setiap langkah menuju masjid, setiap ilmu yang diajarkan, setiap anak yang mulai mencintai zikir, dan setiap muallaf yang semakin teguh memeluk Islam menjadi amal jariyah yang terus mengalir hingga hari ketika seluruh manusia berdiri di hadapan Allah ﷻ.
Karena sejatinya, membangun generasi yang senantiasa mengingat Allah bukanlah pekerjaan sehari atau dua hari. Ia adalah perjalanan panjang yang dimulai dari hati yang ikhlas, dilanjutkan dengan kesabaran, dan disempurnakan oleh pertolongan Allah Ta’ala.
Semoga dari masjid sederhana di Dusun Gulu-guluk ini lahir generasi yang lisannya basah dengan zikir, hatinya hidup dengan iman, akhlaknya dihiasi Al-Qur’an dan Sunnah, serta kelak menjadi penerus dakwah yang menerangi bumi Mentawai dengan cahaya Islam. Āmīn.





