Oktober 27, 2026
IMG-20260629-WA0015

 

﷽

 

Ada perjalanan yang ditempuh untuk mencari penghidupan, dan ada pula perjalanan yang dipilih demi menjaga agama. Di pedalaman Kepulauan Mentawai, setiap kilometer sungai yang dibelah oleh pompong menjadi saksi bahwa dakwah bukan hanya tentang menyampaikan ilmu, tetapi juga tentang mengantarkan manusia menuju pintu-pintu kebaikan.

Selama kurang lebih lima jam menyusuri aliran sungai dari Saibi, Siberut Tengah menuju Siberut Selatan, Ustadz Bilal Mustofa حفظه الله—Da’i 3T Program Kemitraan Khusus BAZNAS bersama Yayasan Sosial, Dakwah dan Pendidikan Mentawai—mengiringi dua pasang jamaah muallaf yang akan melangsungkan pernikahan di Kantor Urusan Agama. Perjalanan panjang itu bukan hanya perpindahan tempat, melainkan langkah penuh harap untuk mengawali rumah tangga di atas ikatan yang diridhai Allah ﷻ. Di atas riak air yang tak pernah berhenti mengalir, tersimpan doa-doa agar iman mereka terus bertumbuh hingga akhir hayat.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

 

 

Setibanya kembali di Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, Dusun Simoilaklak, dan memasuki bulan Ramadhan, malam disambut dengan lantunan ayat-ayat suci dalam shalat tarawih berjamaah. Barisan demi barisan berdiri menghadap kiblat. Orang tua, para ibu, remaja, hingga anak-anak memenuhi rumah Allah ﷻ dengan wajah yang memancarkan ketenangan. Barangkali bangunan masjid itu sederhana, namun di dalamnya tumbuh harapan-harapan besar agar generasi Mentawai semakin mencintai Islam dan istiqamah menjalankan syariat-Nya.

 

 

Rangkaian pembinaan kemudian berlanjut melalui pengajian pekanan yang dihadiri enam belas peserta. Tema tentang rukun Islam dan syahadat dipilih sebagai fondasi keimanan, sebab bangunan yang kokoh selalu diawali dari dasar yang benar. Kalimat Laa ilaaha illallah bukan sekadar lafaz yang diucapkan, melainkan ikrar yang mengubah cara hidup, cara memandang dunia, dan tujuan perjalanan seorang hamba menuju Rabb-nya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan salat, menunaikan zakat, menunaikan haji ke Baitullah, dan berpuasa Ramadan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Semoga setiap perjalanan yang melelahkan, setiap pengajian yang sederhana, setiap saf shalat yang semakin panjang, dan setiap syahadat yang terucap dengan tulus menjadi amal yang terus mengalir pahalanya. Semoga Allah ﷻ menjaga saudara-saudara kita para muallaf di Mentawai, menguatkan hati mereka di atas keimanan, serta memberkahi seluruh ikhtiar dakwah yang dilakukan di Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, Dusun Simoilaklak, hingga semakin banyak jiwa yang menemukan ketenangan di bawah naungan Islam. Aamiin.

Tinggalkan Balasan