Oktober 27, 2026

Mengenal Islam, Satu-Satunya Agama yang Diridhai Allah

0
IMG-20260628-WA0002

 

﷽

 

Di Kepulauan Mentawai, ketika cahaya sore menyelinap lembut melalui jendela-jendela Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, langkah-langkah sederhana kembali berkumpul dalam satu tujuan yang sama. Tidak ada kemegahan aula, tidak ada kursi-kursi mewah, tidak pula fasilitas yang berlimpah. Yang hadir hanyalah hati-hati yang ingin belajar, telinga yang ingin mendengar kebenaran, dan jiwa-jiwa yang berharap semakin dekat kepada Rabb semesta alam.

Anak-anak bermain dengan polosnya di lantai masjid. Para ibu duduk berjejer dengan pakaian sederhana, sementara beberapa bapak menggenggam mushaf dan kitab kecil di tangan mereka. Di hadapan mereka, Ustadz Bilal Mustofa حفظه الله, Da’i 3T Program Kemitraan Khusus BAZNAS bersama Yayasan Sosial, Dakwah dan Pendidikan Mentawai, menyampaikan ilmu dengan penuh kelembutan. Beginilah wajah dakwah di pedalaman; tidak selalu ramai, tetapi selalu menghidupkan harapan.

Pada pengajian pekanan yang dilaksanakan di Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, Dusun Simoilaklak, Desa Saibi Samukop, Kecamatan Siberut Tengah, Kepulauan Mentawai, sebanyak 16 jamaah hadir mengikuti kajian. Tema yang dibahas begitu mendasar, tetapi menjadi pondasi seluruh kehidupan seorang mukmin, yaitu bahwa agama yang diridhai Allah hanyalah Islam.

Allah Ta’ala berfirman:

 إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.”
(QS. Ali ‘Imran: 19)

Ayat yang singkat ini mengandung makna yang sangat agung. Keselamatan sejati tidak dibangun di atas adat, tradisi, ataupun keyakinan buatan manusia. Allah sendiri telah menetapkan jalan yang Dia ridhai, yaitu Islam yang dibawa oleh seluruh nabi dan disempurnakan melalui risalah Nabi Muhammad ﷺ.

Allah juga berfirman:

 وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi.”
(QS. Ali ‘Imran: 85)

Di wilayah-wilayah dakwah seperti Mentawai, ayat-ayat ini bukan hanya dibaca, melainkan menjadi cahaya yang membimbing langkah para muallaf dan kaum muslimin agar semakin kokoh memegang aqidah. Mereka belajar bahwa menjadi seorang muslim bukan hanya mengucapkan syahadat, tetapi juga terus menumbuhkan ilmu, iman, dan amal hingga akhir hayat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

 مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memahamkannya tentang agama.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Setiap majelis ilmu di pelosok negeri adalah bukti bahwa Allah masih menghendaki kebaikan bagi hamba-hamba-Nya. Meski jumlah peserta tidak banyak, setiap orang yang duduk menghadiri kajian adalah bagian dari mata rantai dakwah yang akan terus menyala. Dari satu majelis kecil, lahir keluarga yang lebih mengenal tauhid. Dari satu keluarga, tumbuh generasi yang mencintai Al-Qur’an. Dan dari generasi itulah, semoga Allah menjaga cahaya Islam tetap bersinar di Kepulauan Mentawai.

Semoga Allah ﷻ senantiasa menjaga keikhlasan Ustadz Bilal Mustofa حفظه الله dalam mengemban amanah dakwah di wilayah 3T, mengokohkan hati para jamaah dan para muallaf di Dusun Simoilaklak, serta menjadikan setiap langkah menuju majelis ilmu sebagai pemberat timbangan amal pada hari ketika tidak ada yang bermanfaat selain hati yang datang kepada Allah dalam keadaan bersih.

Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota, dakwah tetap berjalan. Perlahan, tenang, dan penuh kesabaran. Sebab hidayah bukanlah tentang seberapa cepat manusia berubah, melainkan tentang siapa yang terus istiqamah menyampaikan kebenaran hingga Allah sendiri membukakan pintu-pintu hati.

Tinggalkan Balasan