Menguatkan Tauhid Para Muallafah di Pelosok Mentawai
﷽
Dari sudut Pulau Siberut yang dikelilingi rimbunnya hutan dan debur ombak Samudra Hindia, terdapat majelis sederhana yang tak pernah kehilangan kemuliaannya. Lantai masjid menjadi saksi pertemuan hati-hati yang datang dengan satu tujuan: belajar mengenal Allah lebih dekat.
Bukan keramaian yang menjadi ukuran keberkahan sebuah majelis. Terkadang, hanya beberapa orang yang duduk melingkar dengan mushaf dan buku catatan di hadapan mereka, namun di langit, nama-nama mereka disebut sebagai hamba yang sedang menempuh jalan menuju surga.
Itulah yang tampak dalam pembinaan rutin yang dilaksanakan oleh Ustadz Mardian Saputra, S.Pd. حفظه الله, Da’i 3T Program Kemitraan Khusus BAZNAS bersama Yayasan Sosial, Dakwah dan Pendidikan Mentawai. Beliau mengemban amanah dakwah di tiga masjid yang berada di Kecamatan Siberut Barat Daya, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, yaitu Masjid As-Sa’adah Pei-Pei Dusun Makoddiai, Masjid Maznah Al-Muthairi Dusun Taileleu Desa Pasakiat Taileuleu, serta Masjid Baitul Ummi Malasan Dusun Toloulaggo Desa Katurai.
Pada Jumat, 22 Mei 2026, bertempat di Masjid As-Sa’adah Pei-Pei, Desa Pasakiat Taileuleu, beliau kembali membersamai para ibu muslimah dan muallafah dalam sebuah majelis ilmu yang hangat dan penuh kekeluargaan. Sebanyak enam orang peserta hadir, sebagian menempuh perjalanan dari Dusun Simaruei dan Dusun Makoddiai demi menghadiri pembinaan yang menjadi bekal kehidupan mereka sebagai muslimah.
Materi yang disampaikan kali ini melanjutkan pembahasan tentang berbagai bentuk kesyirikan. Setelah mengulas delapan bentuk sebelumnya, kajian memasuki pembahasan kesembilan, yaitu keyakinan bahwa selain Allah mampu mendatangkan manfaat ataupun menolak mudarat secara mutlak. Sebuah pembahasan yang sangat mendasar bagi para muallaf, karena tauhid merupakan pondasi seluruh amal seorang muslim.
Allah Ta’ala berfirman:
وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ
“Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya.”
(QS. Yunus: 107)
Rasulullah ﷺ juga memberikan wasiat agung kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ
“Ketahuilah, seandainya seluruh manusia berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kecuali yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan mampu mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu.”
(HR. At-Tirmidzi)
Bagi para muallaf, memahami hakikat ini bukan hanya menambah ilmu, tetapi juga melepaskan hati dari berbagai keyakinan lama yang bertentangan dengan tauhid. Sedikit demi sedikit, cahaya keimanan menggantikan rasa takut kepada selain Allah. Harapan mereka pun semakin tertambat hanya kepada Rabb semesta alam.
Di daerah 3T seperti Mentawai, dakwah bukan hanya tentang menyampaikan materi. Dakwah adalah kesabaran yang terus berjalan, menempuh perjalanan jauh, menyapa hati yang masih belajar, menguatkan mereka yang baru mengenal Islam, serta menemani setiap langkah hijrah dengan kasih sayang dan kelembutan.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga keistiqamahan Ustadz Mardian Saputra حفظه الله dalam mengemban amanah dakwah di Kepulauan Mentawai. Semoga para ibu muslimah dan muallafah yang hadir diteguhkan di atas tauhid, dilapangkan hati mereka untuk menerima ilmu yang bermanfaat, serta diberi keberkahan dalam iman, amal, dan kehidupan mereka.
اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَارْزُقْنَا الْعِلْمَ النَّافِعَ وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ، وَبَارِكْ فِي دُعَاةِ الْحَقِّ وَفِي أَهْلِ مَنْتَوَايَ، آمِينَ.





