Oktober 27, 2026

Menakar Etika di Era Digital: Antara Ilusi Kebebasan dan Kedangkalan Literasi

0
IMG-20260617-WA0008

Era digital telah mengubah lanskap komunikasi kita secara radikal. Media sosial, yang awalnya dirancang sebagai jembatan ukhuwah, kini menjelma menjadi panggung terbuka tempat semua orang bisa menjadi hakim atas segala hal. Namun, di balik kemudahan akses ini, muncul sebuah fenomena yang memprihatinkan: ilusi kompetensi.

 

  • Ilusi Panggung Media Sosial dan Hakim Tanpa Pisau Analisis

Ruang digital hari ini seolah memberikan ilusi bahwa setiap individu otomatis memiliki kapasitas yang sama untuk menilai segala bidang. Kebebasan berpendapat yang difasilitasi oleh teknologi sering kali disalahartikan sebagai lisensi atau izin untuk merasa paling tahu, bahkan terhadap hal-hal yang sama sekali tidak kita kuasai.

Dampaknya sangat terasa pada bagaimana publik merespons karya-karya yang berbobot. Kita kerap menyaksikan seseorang dengan begitu berani menghakimi sebuah tulisan ilmiah atau karya sastra yang mendalam. Ironisnya, mereka datang bukan membawa “pisau analisis” yang tajam dan objektif, melainkan dengan segudang hawa nafsu, asumsi, dan ego untuk terlihat paling benar. Penghakiman yang dilemparkan tak lebih dari sekadar luapan emosi yang dipaksakan agar terlihat seperti “pemikiran kritis”.

 

  • Ironi Lompatan Logika dan Kedangkalan Literasi

Ada sebuah anomali atau ironi yang mengundang senyum kecut di jagat maya kita. Bagaimana mungkin seseorang mencoba membedah teks-teks filosofis atau narasi yang membutuhkan kedalaman literasi tingkat tinggi, sementara di saat yang sama, ia bahkan masih tertatih-tatih untuk sekadar menempatkan tanda baca dengan benar saat mengetik pesan singkat?

Jangankan memahami esensi dari sebuah bacaan, membedakan kapan harus menggunakan tanda titik, koma, atau huruf kapital saja masih sering diabaikan. Ketika struktur paling dasar dari sebuah komunikasi—yaitu tata bahasa dan tanda baca—saja masih berantakan, maka memaksakan diri untuk membedah makna yang dalam adalah sebuah lompatan logika yang terlalu jauh.

Literasi bukan sekadar kemampuan mengeja huruf, melainkan seni memahami konteks dengan jernih, hati yang tenang, dan akal yang sehat.

Menghakimi karya orang lain hanya bermodalkan hawa nafsu tanpa ilmu tidak akan pernah melahirkan tujuan yang baik. Tindakan tersebut justru hanya akan menelanjangi kedangkalan berpikir diri sendiri di hadapan publik.

 

  • Pandangan Islam: Larangan Menghakimi Tanpa Ilmu

Sebagai pegangan hidup, agama Islam yang mulia telah lama memberikan peringatan keras tentang bahayanya berbicara atau menghakimi sesuatu tanpa landasan ilmu yang benar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra’ ayat 36:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggugjawabannya.”

Ayat ini merupakan rem teologis yang sangat kuat. Setiap penghakiman yang kita rilis tidak menguap begitu saja, melainkan memiliki konsekuensi pertanggungjawaban yang berat di akhirat kelak.

 

  • Menahan Diri Sebagai Bentuk Keberadaban

Menahan diri dari menghakimi sesuatu yang tidak kita kuasai bukanlah tanda kelemahan atau kekalahan. Sebaliknya, itu adalah bentuk tertinggi dari kehormatan diri dan bukti nyata bahwa kita adalah orang yang beradab.

Sebelum kita sibuk menghakimi cara berpikir dan tulisan orang lain, alangkah baiknya kita sibuk membetulkan ketikan dan kapasitas keilmuan kita sendiri. Mari kembalikan fungsi penghakiman pada tempatnya yang terhormat: berbasis ilmu, disampaikan dengan adab, dan bertujuan untuk membangun, bukan menjatuhkan.

Tinggalkan Balasan