Jamuan Berkah di Tanah Simoilaklak
﷽
Suasana hangat menyelimuti Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq saat senja mulai meluruh. Tak ada kemewahan meja perjamuan, hanya selembar alas sederhana yang menjadi saksi bisu atas kerukunan yang terjalin erat. Di atas lantai yang putih bersih, jemari-jemari yang lelah setelah seharian menahan dahaga kini memetik buah kesabaran. Ustadz Bilal Mustofa, sebagai sosok yang mengemban amanah di wilayah 3T melalui kemitraan BAZNAS dan Yayasan Sosial, Dakwah dan Pendidikan Mentawai, duduk bersimpuh bersama warga, meleburkan batasan antara sang pembimbing dan yang dibimbing. Mereka berbagi hidangan ala kadarnya, namun rasa syukur yang membuncah menjadikan setiap suapan terasa begitu nikmat dan berharga.
Kebersamaan ini bukan sekadar urusan perut yang terisi, melainkan tentang penguatan ikatan batin antarsesama Muslim di pelosok Sumatera Barat. Anak-anak kecil ikut serta dengan tatapan penuh ingin tahu, belajar tentang arti berbagi sejak dini. Senyum tulus merekah di wajah-wajah yang terpapar matahari, menandakan bahwa kebahagiaan sejati justru hadir dalam kesederhanaan yang dibalut rasa ukhuwah. Setiap potongan makanan yang berpindah tangan adalah simbol kasih sayang yang mengalir tanpa henti, membuktikan bahwa jarak geografis yang jauh bukanlah penghalang bagi syiar kebaikan untuk tumbuh subur di hati masyarakat Saibi Samukop.
Rasulullah ﷺ sangat menganjurkan umatnya untuk menyegerakan berbuka dan berbagi makanan kepada orang yang berpuasa, karena di dalamnya terdapat keberkahan yang berlipat ganda.
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Barangsiapa yang memberi makan orang yang berbuka puasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.”
(HR. Tirmidzi).
Makna di Balik Kebersamaan

Momen buka puasa pertama ini menjadi tonggak penting bagi misi suci di pelosok. Ustadz Bilal Mustofa حفظه الله tidak hanya membawa ilmu, tetapi juga membawa kehadiran fisik yang nyata sebagai bentuk kepedulian. Kesediaan untuk duduk bersama di lantai, mengupas hidangan lokal, dan tertawa bersama adalah bentuk komunikasi hati yang paling efektif. Inilah wajah Islam yang merangkul; yang tidak memandang derajat, namun mengedepankan kebersamaan dalam ketaatan kepada Sang Pencipta. DKSM.





