Langkah Terakhir di Bumi Mentawai
Langkah Terakhir di Bumi Mentawai

Di bawah naungan langit Saliguma yang mendung menggelayut, tanah Siberut hari ini membuka pelukannya. Angin yang berhembus di antara pepohonan Dusun Silabok Abak seolah berbisik, mengiringi kepergian seorang hamba, Bapak Taksinokta Salabbaet, menuju keabadian. Beliau bukan sekadar angka dalam barisan jamaah Masjid Umar Ibnu Al-Khattab, melainkan jejak-jejak iman yang telah tertanam di Bumi 3T. Sakit yang diderita menjadi penggugur dosa, sebuah perjalanan panjang yang kini berlabuh pada tempat yang hakiki. Di sana, di liang lahat yang digali dengan penuh cinta oleh saudara seiman, terbaring jasad yang telah usai menunaikan tugas dunianya, meninggalkan kerinduan yang mendalam bagi mereka yang ditinggalkan.
Di tengah duka yang menyelimuti, hadir sosok Ustadz Rudhi Hartono حفظه الله sebagai pelipur lara dan pembimbing doa. Kehadiran beliau bukan sekadar tugas dari BAZNAS, melainkan wujud nyata dari ukhuwah islamiyah yang tak terbatas oleh jarak dan medan yang sulit. Di tepi makam ini, kita diingatkan bahwa setinggi apa pun gunung yang kita daki dan sedalam apa pun laut yang kita seberangi, akhir dari segala perjalanan adalah kepulangan kepada-Nya. Selamat jalan, Bapak Taksinokta. Semoga tanah makammu menjadi taman dari taman-taman surga, di bawah rahmat Allah ﷻ yang maha luas.
Setiap nyawa pasti akan merasakan perpisahan dengan raga, dan sakit yang diderita seorang mukmin adalah rahmat tersembunyi.
1. Kepastian Ajal Sebagaimana firman Allah ﷻ dalam Al-Qur’an:
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)
2. Sakit Sebagai Penggugur Dosa
Rasulullah ﷺ bersabda mengenai kemuliaan seorang mukmin yang ditimpa sakit sebelum wafatnya:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللَّهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا
“Tidaklah seorang muslim tertimpa gangguan berupa penyakit atau lainnya, melainkan Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.”
(HR. Bukhari d

an Muslim)
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ
“Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sejahterakanlah dia, dan maafkanlah segala kesalahannya. Muliakanlah tempat tinggalnya, lapangkanlah jalan masuknya, mandikanlah dia dengan air yang jernih dan sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan sebagaimana Engkau membersihkan baju putih dari kotoran.” DKSM.






