Cahaya Ukhuwah di Jantung Siberut
﷽
Hari ini, ruang-ruang kelas yang bersahaja berubah menjadi ruang dialog yang penuh kehangatan. Sosialisasi bersama orang tua wali bukan sekadar pertemuan formal, melainkan penyatuan visi untuk menjaga amanah masa depan anak-anak pedalaman. Senyum merekah saat bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) disalurkan—sebuah oase bagi pendidikan di daerah minoritas yang membuktikan bahwa mereka tidak sendirian dalam berjuang. Tangan-tangan yang menerima bantuan adalah tangan-tangan yang kelak akan membangun Mentawai dengan cahaya iman dan kemuliaan adab yang telah ditanamkan sejak dini.







Di balik rimbunnya belantara Siberut, di mana mentari harus berjuang menembus kerapatan tajuk pepohonan, berdirilah sebuah oase ilmu bernama SD Islam Al-Kuttab 1 Mangorut. Sekolah ini bukan sekadar bangunan kayu dan ubin, melainkan benteng pertahanan akidah yang berdiri strategis di Desa Madobag untuk melayani cahaya hidayah bagi para mualaf dan warga lokal. Di tanah pedalaman yang eksotis ini, setiap langkah kaki menuju sekolah adalah sebuah ibadah, dan setiap kesulitan akses geografis adalah saksi perjuangan menuntut ilmu yang tak terhingga harganya.
Kurikulum yang dijalankan mengakar kuat pada konsep Kuttab, sebuah warisan peradaban Islam yang mendahulukan adab sebelum ilmu dan iman sebelum Al-Qur’an. Para santri tidak hanya diajarkan untuk cerdas secara logika melalui matematika dan sains sesuai standar nasional, tetapi jiwa mereka dibasuh dengan hafalan kalamullah (tahfizh) setiap pagi. Inilah pendidikan yang harmonis; tetap berpijak pada kurikulum negara namun tetap terbang tinggi dengan sayap-sayap wahyu, membentuk karakter Islami yang kokoh di tengah tantangan zaman.
Di bawah atap sederhana SD Islam Al-Kuttab 1 Mangorut, geliat peradaban Islam tumbuh subur di tengah pelukan rimba Mentawai. Desa Madobag menjadi saksi betapa pendidikan bukan sekadar urusan papan tulis dan spidol, melainkan jembatan hati yang menghubungkan para guru, orang tua, dan santri dalam satu ikatan ukhuwah yang kokoh. Di sekolah yang menjadi tumpuan bagi komunitas mualaf dan warga lokal ini, nilai-nilai Kuttab mewujud nyata; bukan hanya dalam hafalan ayat-ayat suci, tetapi dalam gerak bersama memberdayakan sesama di tengah tantangan geografis yang menantang.


Puncak keindahan hari ini tertuang dalam tradisi makan bersama. Di atas lantai kayu yang menjadi saksi bisu pengabdian, para orang tua, guru, dan santri duduk bersimpuh, meluruhkan sekat jabatan dan status. Aroma hidangan sederhana menyatu dengan aroma tanah basah Siberut, menciptakan suasana kekeluargaan yang tak ternilai harganya. Inilah potret pendidikan sejati di SD Islam Al-Kuttab 1 Mangorut: sebuah institusi yang tak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga mengenyangkan jiwa dengan kasih sayang, gotong royong, dan ketaatan kepada Sang Khalik.
Keindahan berbagi, menuntut ilmu, dan menjaga kebersamaan dalam Islam telah ditegaskan dalam banyak ayat dan hadits.
Allah ﷻ berfirman dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
Pemberian bantuan PIP dan dukungan donatur bagi sekolah dakwah selaras dengan firman Allah dalam Surah Al-Ma’idah ayat 2:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”
Rasulullah ﷺ juga sangat menganjurkan umatnya untuk makan bersama agar turun keberkahan, sebagaimana sabda beliau:
اجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ
“Berkumpullah kalian dalam menyantap makanan kalian, dan sebutlah nama Allah padanya, niscaya akan diberkahi bagi kalian padanya.”
(HR. Abu Daud).
DKSM.





