Bakti Sunyi di Masjid Nurul Hidayah
﷽

Langkah kaki mungil itu beradu dengan tanah Saliguma, membawa semangat yang meluap untuk menyucikan rumah Allah ﷻ. Ustadz Rudhi Hartono حفظه الله membimbing tangan-tangan kecil tersebut, mengajarkan bahwa keimanan bukan sekadar hafalan lisan, melainkan tindakan nyata membersihkan tempat sujud sebelum bulan mulia tiba. Mereka memunguti dedaunan dan menyapu debu dengan tawa yang jujur, seolah sedang menenun masa depan yang lebih bersih bagi sanubari mereka sendiri. Masjid ini menjadi saksi bisu bagaimana persaudaraan dirajut melalui kerja bakti sederhana namun penuh makna di jantung Siberut Tengah.

Kebersamaan ini mencerminkan ketaatan yang mendalam terhadap perintah menjaga kesucian. Saat mereka berkumpul melingkar di dalam masjid, terpancar ketulusan yang murni dari wajah-wajah generasi penerus dakwah ini. Tidak ada lelah yang nampak, hanya ada pengabdian yang tulus demi menyongsong Ramadan yang kian dekat. Melalui gotong royong ini, ukhuwah Islamiyah semakin kokoh berdiri, memastikan bahwa nilai-nilai luhur agama tetap terjaga dan lestari di tanah Mentawai yang asri.

Kegiatan membersihkan masjid dan menjaga kesucian adalah bagian integral dari iman, sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut:
التَّطَهُّرُ شَطْرُ الإِيمَانِ
“Kesucian itu adalah setengah dari iman.”
(HR. Muslim)

Serta firman Allah ﷻ mengenai mereka yang memakmurkan rumah-Nya:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS. At-Taubah: 18)
DKSM.





