Gema Tauhid di Ujung Negeri
﷽
Di sebuah sudut bumi yang jauh dari hiruk-pikuk kota,
Di bawah naungan Mesjid Abu Bakar Shiddiq,
Suara-suara mungil itu mulai belajar mengeja keagungan Tuhan.
Ustadz Yanuarlis حفظه الله, sang penyambung risalah di bumi 3T,
Berdiri dengan sabar, menuntun lisan-lisan suci
Mempraktikkan adzan dan iqamah yang menggetarkan sanubari.
Bukan sekadar nada yang mereka pelajari,
Melainkan sebuah panggilan untuk bersujud kepada Ilahi.
Di tangan sang Dai, program BAZNAS dan Yayasan Sosial, Dakwah dan Pendidikan Mentawai menjadi nyata,
Mengubah sunyi menjadi harmoni, membasuh dahaga iman dengan ilmu yang abadi.
Dari Dusun Guluk-guluk, mereka adalah tunas-tunas peradaban,
Yang kelak akan mengumandangkan takbir kemenangan di sepanjang masa depan.
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلْمُسْلِمِين
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?'”
(QS. Fussilat: 33)
الْمُؤَذِّنُونَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Para muadzin adalah orang yang paling panjang lehernya (paling mulia/mendapat tempat terhormat) di hari kiamat nanti.”
(HR. Muslim). DKSM.





