Cahaya di Pelosok Bumi Sikerei
﷽
Di bawah atap kayu yang bersahaja,
Di sebuah sudut Bumi Mentawai yang jauh dari riuh kota,
Langkah kaki Ustadz Muhammad Adam حفظه الله menetap dalam setia.
Beliau bukanlah sekadar pengajar,
Melainkan pembawa pelita di tengah sunyinya cakrawala 3T.
Senin itu, saat mentari mulai condong ke ufuknya,
Enam belas pasang mata mungil duduk bersimpuh di atas permadani hijau.
Tiada kursi empuk, tiada pendingin udara yang membelai kulit,
Hanya dinding papan dan semangat yang membuncah dalam hening.
“Alif… Ba… Ta…”
Suara itu menggema lembut, membelah kesunyian malam.
Dengan telaten, sang Dai menuntun jemari-jemari kecil itu,
Mengenalkan Makharijul Huruf, tempat di mana firman Tuhan bermuara.
Setiap makhraj adalah jembatan menuju langit,
Setiap tajwid adalah doa yang dirajut dalam ketulusan hati.
Melalui Program Kemitraan Khusus BAZNAS bersama Yayasan Sosial dan Pendidikan Mentawai,
Zakat dan kepedulian berubah wujud menjadi nafas dakwah.
Di sini, pendidikan bukan sekadar angka,
Tapi tentang menjaga iman agar tetap tegak seperti pohon bakau di pesisir pantai.
Teruslah berjuang, Sang Pendidik Ummat.
Meski namamu mungkin tak tertulis di megahnya baliho kota,
Namun di tiap makhraj huruf yang mereka ucapkan kelak,
Ada pahala jariyah yang mengalir abadi untukmu dan para dermawan.
Sebagaimana aktivitas utama—mengenalkan huruf-huruf hijaiyah kepada anak-anak—Rasulullah ﷺ memberikan penghormatan tertinggi bagi pelakunya:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
(HR. Bukhari)
Janji Allah ﷻ melalui lisan Rasul-Nya bahwa ilmu yang bermanfaat adalah investasi akhirat yang paling nyata:
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak shalih yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)
Program kemitraan dan zakat yang dikelola untuk dakwah ini merupakan bentuk “petunjuk” jalan kebaikan. Setiap huruf yang dibaca oleh santri tersebut, pahalanya juga mengalir kepada sang pendidik dan para dermawan tanpa mengurangi pahala pelakunya sedikit pun:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”
(HR. Muslim)
Perjuangan di Bumi Mentawai adalah bukti nyata bahwa cahaya Islam tidak akan pernah redup selama masih ada hati yang tulus untuk menyampaikan walau hanya satu ayat. Semoga Allah ﷻ menjaga Ustadz Muhammad Adam حفظه الله dan memberkahi setiap langkah dakwahnya. DKSM.





