Tegaknya Tauhid di Masjid As-Sa’adah
﷽
“Jangan menyembelih selain untuk Allah ﷻ,” pesan Ustadz Mardian Saputra, S.Pd. حفظه الله bergema,
Menanamkan akar keyakinan agar ibadah hanya bagi Sang Pencipta.
Di tengah kesederhanaan, iman jemaah tumbuh kian kokoh,
Menuju rida Ilahi, meninggalkan jahiliyah yang mulai rubuh.
Kajian mengenai larangan menyembelih untuk selain Allah ﷻ adalah bagian dari menjaga kemurnian tauhid, sebagaimana firman Allah ﷻ:
QS. Al-Kautsar: 2
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).”
Terkait bahaya kesyirikan (termasuk menyembelih untuk selain Allah ﷻ), Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis yang sangat tegas:
Hadis Riwayat Muslim
لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ
“Allah melaknat orang yang menyembelih (berkurban) untuk selain Allah.”
Di ufuk Siberut Barat Daya, mentari iman yang mulai menyapa,
Kala Masjid As-Sa’adah Peipei menjadi saksi bisu sebuah doa.
Tujuh jiwa ibu-ibu mualaf dari Dusun Simaruei dan Makoddiai,
Duduk bersimpuh, menimba ilmu agar hidayah tak lagi usai.
Adalah Ustadz Mardian Saputra, S.Pd. حفظه الله, sang pembawa kabar gembira,
Dai 3T dari rahim kemitraan BAZNAS dan Yayasan Sosial Pendidikan Mentawai.
Dengan tutur kata yang lembut, ia mengurai benang-benang tauhid,
Mengingatkan hati agar tak terjebak dalam gelapnya syirik yang pahit. DKSM.





