Lantunan Ummul Kitab di Simoilaklak
﷽
Di ufuk Barat Nusantara, di mana deburan ombak Mentawai menyapa karang,
Tegak sebuah rumah Allah ﷻ bernama Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Bukan sekadar bangunan, melainkan mercusuar iman di tengah sunyi,
Tempat Ustadz Bilal Mustofa حفظه الله menenun hidayah dalam kesabaran yang tulus.
Jumat sore yang teduh di Saibi Samukop,
Tujuh belas jiwa berkumpul, menundukkan hati di atas hamparan sajadah.
Tak ada keriuhan dunia, hanya getaran lisan yang rindu akan rida-Nya,
Mengeja perlahan “Ummul Kitab”, kunci pembuka pintu surga.
Setiap makhraj diperbaiki, setiap tajwid diteliti,
Karena Al-Fatihah adalah dialog hamba dengan Sang Khaliq.
Meski jauh dari gemerlap kota, di Dusun Simoilaklak ini,
Lantunan ayat suci menjadi saksi, bahwa dakwah tak pernah mati di garis sunyi.

Kegiatan memperbaiki bacaan Al-Fatihah sejalan dengan hadits Rasulullah ﷺ mengenai keutamaan belajar Al-Qur’an:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
(HR. Bukhari).
Selain itu, mengingat pentingnya Al-Fatihah dalam shalat, memperbaikinya adalah kewajiban agar ibadah menjadi sah, sebagaimana sabda beliau:
لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
“Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al-Fatihah).”
(HR. Bukhari dan Muslim).
DKSM.





