Keteguhan Hati di Bumi Sikerei
﷽
Lidah-lidah yang terbiasa dengan dialek lokal itu kini perlahan mengeja alif, ba, dan ta. Sebuah pemandangan yang menyentuh sanubari saat sepuluh mualaf berkumpul, menundukkan kepala bukan karena kalah, melainkan karena rindu akan kebenaran yang baru saja mereka peluk. Hari Selasa ini menjadi saksi betapa ilmu tidak mengenal batas geografis; ia menembus rimbunnya hutan Siberut dan menyapa hati-hati yang haus akan tuntunan Ilahi. Pengajaran huruf Hijaiyah bukan sekadar mengenalkan simbol, melainkan membuka pintu bagi mereka untuk berbicara langsung dengan Sang Pencipta melalui kalam-Nya.
Kesederhanaan ruang Masjid Nurul Hidayah justru memperkuat keikhlasan yang terpancar. Tanpa hiruk-pikuk dunia, proses belajar berlangsung dengan khidmat. Seorang pengajar dengan sabar menuntun setiap pelafalan, memastikan setiap mualaf merasa diterima dalam keluarga besar ini. Kedatangan para pencari ilmu ini membuktikan bahwa hidayah adalah sebuah ketetapan yang melintasi samudera dan mendaki perbukitan Mentawai, membawa ketenangan bagi jiwa-jiwa yang sedang meniti jalan pulang menuju pengabdian yang murni.
Semangat yang membara di Dusun Silabok Abak merupakan wujud nyata dari upaya menjaga kemuliaan agama. Setiap huruf yang dibaca adalah satu langkah menuju pemahaman yang lebih dalam tentang Islam. Upaya kolektif antara BAZNAS dan Yayasan Sosial, Dakwah dan Pendidikan Mentawai ini menunjukkan bahwa kepedulian adalah perekat paling kuat bagi umat. Dalam setiap pertemuan bulanan ini, terselip doa agar keteguhan hati para mualaf tetap kokoh, sekuat akar pepohonan yang menopang tanah Kepulauan Mentawai dari gempuran ombak.

Keutamaan bagi mereka yang belajar Al-Qur’an, terutama bagi mereka yang masih terbata-bata, ditegaskan dalam hadits berikut:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
(HR. Bukhari)
Serta dukungan bagi mereka yang kesulitan dalam mengejanya:
الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
“Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia mahir membacanya, maka ia bersama para malaikat yang mulia dan berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan merasa kesulitan dalam membacanya, maka baginya dua pahala.”
(HR. Muslim)





