Spiritualitas di Bumi Mentawai
﷽
Malam merangkul Dusun Silabok Abak dalam ketenangan yang dalam, saat jiwa-jiwa yang haus akan rida Ilahi berkumpul menyatukan niat. Anak-anak kecil duduk melingkar dengan tawa yang tertahan, belajar mengeja makna kebersamaan dalam kesederhanaan yang murni. Ketika waktu berdiri tegak menghadap kiblat tiba, deretan tubuh merapat tanpa sekat, membuktikan bahwa iman adalah pengikat terkuat bagi mereka yang menetap di pulau-pulau jauh. Sujud mereka menjadi muara bagi segala lelah, tempat mengadu tentang kerasnya hidup di alam, sekaligus syukur atas keteguhan yang terus dipelihara oleh para pendakwah.
Ketulusan memancar dari setiap gerakan ruku’ dan sujud yang serempak, menciptakan harmoni yang menyentuh langit Siberut. Ustadz Rudhi Hartono حفظه الله membimbing langkah mereka, menanamkan benih-benih takwa di tanah yang basah oleh kasih sayang. Tak ada kemewahan arsitektur yang megah, hanya ada lantai yang dingin dan dinding yang saksi atas pengabdian tanpa batas. Di sini, Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan perayaan kembalinya fitrah manusia ke dalam pelukan Sang Pencipta, mengokohkan persaudaraan yang tak lekang oleh jarak maupun keterbatasan sarana.

Semangat ibadah berjamaah dan memakmurkan rumah Allah ini selaras dengan firman Allah ﷻ dalam Al-Qur’an:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَن يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS. At-Tawbah: 18)





