Menggali Ilmu di Simoilaklak
﷽
Lantai-lantai Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi saksi bisu atas berkumpulnya jiwa-jiwa yang haus akan bimbingan. Ustadz Bilal Mustofa حفظه الله, sosok pembimbing dari program kemitraan BAZNAS dan Yayasan Sosial, Dakwah dan Pendidikan Mentawai, berdiri tegak menghadap papan tulis, mengurai simpul-simpul hukum agama bagi masyarakat Dusun Simoilaklak. Suasana sore itu terasa begitu khidmat; para peserta duduk bersimpuh, menyimak dengan saksama setiap penjelasan mengenai sembilan perkara yang sanggup menggugurkan pahala serta keabsahan ibadah puasa.

Pertemuan mingguan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya menjaga kemurnian ibadah di tengah keterbatasan wilayah Saibi Samukop.
Pelajaran mengalir lewat tutur kata yang santun, membedah kitab dan kaidah agar setiap hamba memahami batasan yang ditetapkan Sang Pencipta. Sebanyak dua puluh peserta yang hadir menunjukkan semangat yang luar biasa, melampaui jauhnya jarak dan rimbunnya hutan Siberut Tengah.
Mereka menyadari bahwa kesempurnaan menahan lapar dan haus hanya bisa dicapai jika dibarengi dengan pemahaman ilmu yang mumpuni. Setiap goresan kapur di papan tulis adalah bekal berharga bagi penduduk desa untuk menyongsong bulan suci dengan kesiapan batin yang matang, memastikan puasa mereka tidak sekadar menjadi dahaga yang sia-sia.

Kesungguhan para jamaah dalam menuntut ilmu mencerminkan perintah Allah ﷻ dalam Al-Qur’an untuk selalu merujuk kepada mereka yang memiliki pemahaman lebih dalam. Hal ini selaras dengan firman-Nya:
فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl: 43)
DKSM.





