Atap Usang yang Merindu Langit
﷽
Langgam gerimis yang jatuh di tanah Saliguma tak lagi menjadi irama penyejuk, melainkan sebuah ujian keteguhan bagi mereka yang bersujud di dalamnya. Ketika butiran hujan menembus sela-sela seng yang telah dimakan karat, lantai kayu yang mulai melapuk itu menjadi saksi bisu betapa ketaatan tak pernah surut meski raga harus basah kuyup. Masjid Nurul Hidayah bukan hanya tumpukan material yang menua, ia adalah rumah harapan bagi masyarakat Dusun Silabok Abak. Di tengah keterbatasan sarana wudhu dan atap yang tak lagi mampu memayungi dari badai, doa-doa tetap membubung tinggi, melewati celah langit-langit yang terbuka, mengetuk pintu Arsy dengan penuh kesabaran.

Perjuangan Ustadz Rudhi Hartono حفظه الله di garis terdepan wilayah 3T adalah wujud nyata dari pengabdian yang melampaui batas kenyamanan. Menatap kondisi bangunan yang kian memprihatinkan, nurani kita terpanggil untuk tidak membiarkan saudara seiman berjuang sendirian dalam kedinginan saat menghadap Sang Pencipta. Membangun kembali rumah Allah ini adalah investasi abadi yang takkan tergerus waktu. Setiap paku yang tertancap dan setiap lembar atap yang terpasang nantinya akan menjadi pelindung bagi kita di hari yang tiada lagi perlindungan selain dari-Nya.

Allah ﷻ berfirman mengenai kemuliaan orang-orang yang memakmurkan rumah-Nya:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS. At-Taubah: 18)





