Maret 20, 2026
IMG-20260223-WA0046_edit_2446067068896

 

 

Dinding-dinding kayu di Masjid Al-Munawwarah menjadi saksi bisu atas sebuah perundingan yang melampaui urusan perut. Ustadz Baysam Sulaiman حفظه الله duduk bersila, menyelami kerisauan hati pengurus Majelis Ta’lim Dusun Gotab dan Batlappak yang tengah didera keterbatasan. Mereka berkumpul bukan untuk meratapi ketiadaan biaya sahur maupun hidangan berbuka, melainkan untuk merajut harapan di tengah kesunyian Siberut Tengah. Dalam lingkaran kecil itu, tersimpan tekad yang bulat bahwa ketiadaan materi tak boleh memadamkan semangat untuk menghidupkan malam-malam penuh ampunan. Setiap kata yang terucap adalah bentuk kepasrahan yang aktif, sebuah ikhtiar untuk tetap memuliakan tamu agung meskipun kantong sedang kosong.

 

Kebeningan lantai masjid memantulkan ketulusan wajah-wajah yang percaya bahwa rezeki tidak pernah tertukar alamatnya. Mereka mendiskusikan strategi dengan kepala dingin, mencari jalan keluar agar persaudaraan di Desa Saliguma tetap hangat oleh aroma kebersamaan saat bedug bertalu. Kesederhanaan ruang ini justru mempertegas sebuah keyakinan: bahwa saat manusia berkumpul untuk memikirkan kepentingan umat, maka semesta akan ikut mendoakan. Musyawarah ini merupakan jembatan yang menghubungkan antara niat yang tulus dengan keajaiban yang dijanjikan, sebuah upaya nyata untuk menjaga api spiritualitas tetap menyala di wilayah Kepulauan Mentawai yang penuh tantangan.

 

 

Ketulusan dalam bermusyawarah dan keyakinan akan pertolongan Allah ﷻ atas kesulitan hamba-Nya tercermin dalam Al-Qur’an:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا . إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5-6)

 

Serta anjuran untuk bermusyawarah dalam setiap urusan:
وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ
“…sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka.”
(QS. Ash-Shura: 38)

Tinggalkan Balasan