Cahaya Qur’an di Bumi Simoilaklak
Cahaya Qur’an di Bumi Simoilaklak

Di bawah naungan atap Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq,
Suara riuh rendah malaikat-malaikat kecil membelah sunyi.
Di sana, di Desa Saibi, jantung Siberut Tengah,
Langkah kaki mungil anak-anak mualaf Mentawai
Menjemput cahaya di ufuk sore yang tenang.
Kamis, 8 Januari 2026, jam menunjukkan pukul empat petang,
Dua puluh tujuh tunas bangsa duduk bersimpuh dengan khidmat.
Ada jemari yang mengeja Alif, Ba, Ta pada lembar Iqro’,
Ada jiwa yang mulai berlayar di samudera Al-Qur’an.
Tak peduli mentari masih benderang selepas Ashar,
Atau remang senja mulai turun selepas Maghrib,
Semangat itu tak pernah surut, bak ombak Mentawai yang tak pernah berhenti.
Ustadz Bilal Mustofa حفظه الله, sang penyambung hidayah,
Berdiri kokoh sebagai Dai 3T, menenun asa di sela-sela keterbatasan.
Ini bukan sekadar mengeja huruf demi huruf,
Ini adalah ikhtiar menjaga Aqidah di akhir zaman yang penuh badai.
Kita sedang menanam benih-benih Mu’allim Rabbani,
Generasi yang dadanya berdegup seirama dengan wahyu Ilahi,
Agar mereka tumbuh tegak, istiqomah dalam iman,
Menjadi benteng cahaya yang tak kunjung padam.
Semoga dari tangan-tangan kecil ini,
Lahir keshalehan yang menghantarkan pada derajat Ihsan.
Doa kita membumbung tinggi ke langit Mentawai:
“Ya Rabb, kokohkanlah langkah mereka, terangkanlah jalan mereka.” DKSM.





