Memetik Makna Dalam Ruang Kesabaran
﷽
Lantunan hikmah mengalir tenang di antara dinding-dinding kayu yang menjadi saksi bisu pengabdian Ustadz Mardian Saputra, S.Pd. حفظه الله. Suara beliau merambat pelan, menyusup ke sela-sela hati jamaah yang duduk bersimpuh di atas hamparan karpet merah, menembus kesunyian malam di Siberut Barat Daya. Malam itu, di Masjid As-Sa’adah hingga Baitul Ummi, udara ramadhan terasa lebih kental bukan karena dinginnya angin laut, melainkan karena hangatnya untaian nasihat tentang rahasia menahan diri yang disampaikan dengan penuh ketulusan.

Seorang balita melangkah mungil di antara barisan, menjadi simbol bahwa estafet kebenaran tengah ditanamkan sejak dini di tanah Kepulauan Mentawai ini. Tatapan mata para orang tua yang teduh mencerminkan kerinduan akan pemahaman agama yang lurus, sebuah dahaga spiritual yang coba dipuaskan melalui Program Kemitraan Khusus BAZNAS. Setiap butir kalimat yang keluar mengenai keutamaan puasa bukan sekadar teori, melainkan bekal nyata bagi masyarakat pelosok untuk mendaki derajat takwa di tengah keterbatasan sarana.
Kesederhanaan ruangan dengan plafon putih yang bergaris tegak itu seolah menegaskan bahwa kemuliaan ibadah tidak butuh kemewahan, melainkan kesungguhan. Dalam keremangan malam di Dusun Makoddiai hingga Toloulaggo, kultum tarawih ini menjadi pengingat bahwa lapar dan dahaga adalah jembatan menuju pembersihan jiwa yang hakiki. Sang Da’i 3T terus berdiri tegak, merajut simpul persaudaraan melalui ilmu, memastikan bahwa setiap jiwa di pesisir ini merasakan indahnya ketaatan yang tulus kepada Sang Pencipta.

Sesuai dengan tema kultum mengenai keutamaan puasa Ramadhan, berikut adalah dalil dari hadits Nabi Muhammad ﷺ:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim).





