Ketulusan yang Tak Terbilang
﷽
Duduk bersimpuh di atas hamparan karpet merah Masjid Maznah Al-Muthairi, para ibu di Dusun Taileleu ini sedang menenun pemahaman yang lebih dalam tentang makna penghambaan. Di sela-sela dinding putih yang menjadi saksi bisu, Ustadz Mardian Saputra S.Pd. حفظه الله menguraikan nasihat demi nasihat agar ibadah yang dijalankan tak sekadar menjadi rutinitas yang hampa. Fokus mereka adalah sebuah perjalanan menuju penyempurnaan diri, di mana setiap telinga disandarkan pada kebenaran agar puasa yang sebentar lagi menjelang tidak hanya menyisakan rasa lapar yang sia-sia, melainkan berbuah ampunan yang melimpah dari Sang Pencipta.
Suasana khidmat menyelimuti ruang sederhana itu saat lisan sang Da’i mengingatkan bahwa nilai sebuah ketaatan terletak pada kesungguhan menjaga hati dan lisan. Lima belas muslimah dan mualafah yang hadir meresapi setiap peringatan tentang hal-hal yang dapat meluruhkan pahala, menyadari bahwa perjalanan dakwah di pedalaman Siberut Barat Daya ini adalah anugerah untuk memperteguh langkah mereka. Sebagai penyejuk hati, bingkisan kurma yang dibagikan menjadi simbol manisnya ukhuwah dan kepedulian, mempererat ikatan persaudaraan yang tumbuh subur di bumi Mentawai, semata-mata mengharap keberkahan yang tak akan putus oleh waktu.
Pentingnya menjaga kualitas ibadah, khususnya puasa agar tidak sia-sia, didasarkan pada sabda Rasulullah ﷺ:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar, dan betapa banyak orang yang shalat malam namun dia tidak mendapatkan dari shalat malamnya kecuali begadang saja.”
(HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah).





