Cahaya dari Langit Saliguma: Jejak Dakwah di Ujung Mentawai
Cahaya dari Langit Saliguma:
Jejak Dakwah di Ujung Mentawai

Di bawah naungan atap Masjid Nurul Hidayah, ketika semburat jingga Maghrib perlahan luruh ke pangkuan malam, sebuah peradaban sedang dirajut dengan kesabaran. Di Dusun Silabok Abak, Desa Saliguma, riuh rendah suara ombak Siberut Tengah kalah oleh lantunan tulus bibir-bibir mungil yang mengeja asma Tuhan. Ustadz Rudhi Hartono حفظه الله, sang pengemban amanah BAZNAS dan Yayasan Mentawai, tegak berdiri sebagai pelita di wilayah 3T—menjadi jembatan yang menghubungkan tanah Mentawai dengan cahaya wahyu.
Bukan sekadar rutinitas, kegiatan “Maghrib Mengaji” ini adalah upaya me
mahat iman di atas batu karang keteguhan. Anak-anak yang bersimpuh di atas sajadah hijau itu sedang menabung cahaya; mereka menghafal setiap gerakan dan bacaan salat, memastikan bahwa dalam setiap sujudnya kelak, ada sanubari yang terpaut erat kepada Sang Pencipta. Di tangan sang Da’i, setiap huruf Hijaiyah yang dibisikkan menjadi benih-benih kebaikan yang akan tumbuh menjadi pohon ketakwaan, menjulang tinggi menembus langit Sumatera Barat.
Tugas suci membimbing umat dan mengajarkan syariat, terutama salat, memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah ﷻ.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)
Narasi ini bukan hanya tentang sebuah laporan kegiatan, melainkan tentang “Investasi Akhirat”. Setiap tetes keringat Ustadz Rudhi حفظه الله dalam membimbing anak-anak Saliguma adalah doa yang terus me

ngalir. Dengan fokus pada hafalan bacaan salat, beliau sedang menanamkan tiang agama di dada generasi penerus Mentawai, agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga sujud dalam ketundukan yang sempurna kepada Allah ﷻ. DKSM.





