Kesabaran Menanam Benih di Tanah Saliguma
﷽
Hening Dusun Gulu-guluk seketika luruh saat suara-suara mungil mulai mengeja makna tentang lapar dan dahaga yang tertahan. Di dalam bangunan Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, waktu seolah melambat, membiarkan setiap butir ilmu meresap ke dalam sanubari jemaah yang duduk bersimpuh. Ustadz Yanuarlis حفظه الله, sebagai penyambung lidah kebenaran dari program BAZNAS dan Yayasan Sosial, Dakwah dan Pendidikan Mentawai, berdiri bukan hanya membawa materi, melainkan membawa segenap raga untuk menjadi saksi betapa indahnya menata batin melalui hikmah puasa di wilayah terpencil ini.
Setiap kalimat yang terucap menjadi jembatan penghubung antara hamba dan Sang Pencipta, membuktikan bahwa jarak geografis yang jauh di pelosok Siberut Tengah bukanlah penghalang untuk meraih kedekatan spiritual. Anak-anak dan orang dewasa menyimak dengan saksama, mengumpulkan bekal batiniah untuk menyambut bulan suci. Mereka belajar bahwa menahan diri adalah seni tertinggi dalam mencintai Tuhan, sebuah upaya untuk memurnikan jiwa dari segala noda duniawi yang sering kali menyilaukan mata.
Perjuangan ini adalah bentuk pengabdian yang melampaui batas kenyamanan. Menjadi pendamping masyarakat di daerah 3T menuntut ketabahan yang seluas samudra, di mana setiap tantangan alam dijawab dengan keteguhan niat. Pertemuan ini menjadi bukti nyata bahwa kebenaran akan selalu menemukan jalan untuk disampaikan, merangkul mereka yang rindu akan ketenangan, dan menyatukan hati dalam ikatan persaudaraan yang tak lekang oleh kerasnya medan kehidupan di pedalaman Sumatera Barat.
Berikut adalah firman Allah ﷻ mengenai tujuan utama dari ibadah puasa:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi hamba yang patuh dan mawas diri.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Rasulullah ﷺ juga menekankan bahwa esensi puasa bukan hanya menahan lapar, melainkan menjaga lisan dan perbuatan:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh terhadap upayanya meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)





